Kamis, 02 Mei 2013

Penyetelan Nossel injektor



Proses servis injector bisa dibedakan menjadi dua tahap utama, yaitu pengetesan dan pembersihan
Ada beberapa tahap pengetesan injector, Pertama adalah tes leakage atau kebocoran, test tekanan penyemprotan, dilanjutkan tes spray pattern alias pola semprotan nosel. kemudian injector  diukur kemampuan mengalirkan bahan baker (flow test) dan terakhir akan dilakukan simulasi pemakaian. Pembersihan juga dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang menumpuk di nosel.
Namun sebelum melakukan penyetelan, Pasang injektor pada tester dengan longgar saja. Lakukan pembuangan udara yang ada pada saluran tester,dengan menggerakkan tuas sampai solar keluar pada sambungan pipa
Gambar pengeluaran udara
Setelah itu mulai melakukan langkah kerja sebagai berikut :
1. Leakage test
Maksud dari test ini adalah mengetahui apakah ada kebocoran (leakage) baik dari bodi injector maupun pada jarum di noselnya. lakukan test kebocoran dengan cara
a) buka kran saluran tekan ke manometer. Geakan tuas tester sampai manometer menunjukkan tekanan 80 bar, pertahankan posisi tekanan ini selama 20 detik. Lihat dan amati kebocoran pada ujung nossel.
b) amati dan rasakan ujung bodi nosel dengan jari anda, apakah ada tetesan atau ujung bodi nosel menjadi basah

 Injektor harus tidak boleh bocor sama sekali. Kalau bocor di bodi, bahaya buat mesin karena bahan bakar bisa menetes ke bagian luar mesin. Bisa kebakaran, Sedangkan jika jarum noselnya bocor, bahan bakar terus keluar meski injector menutup. Tekanan bahan bakar keseluruhanpun akan turun. Tes ini dilakukan dalam keadaan nosel tertutup (tidak dialiri arus listrik). jika pada tes ini berhasil, atau tidak ada kebocoran maka injector bisa dipakai.

Gambar pemeriksaan kebocoran
2. Test tekanan penyemprotan
lakukan test tekanan penyemprotan, dengan cara  gerakkan tuas tester delam langkah penuh dengan kuat dan cepat, baca tekanan pada manometer

Gambar test tekanan penyemprotan

3. Spray test
Dari tes ini diketahui pola penyemprotan injector. Pengabutan bahan bakarnya harus bagus. Ada beberapa pola yang bisa digunakan. Setiap mobil memiliki pola semprotan yang berbeda. lakukan test tekanan penyemprotan, dengan cara  gerakkan tuas tester delam langkah penuh dengan kuat dan cepat, baca tekanan pada manometer Delapan puluh persen kendaraan yang punya pola standar seperti yang paling kiri. Sisanya punya pola standar seperti yang paling kanan, misalnya BMW. Dengan diketahui adanya penyumbatan, maka bisa coba dilakukan pembersihan.


Gambar penyemprotan nosel
Pola terbaik adalah yang paling kanan. Artinya bensin dikabutkan sempurna. Kalau yang telihat di tengah atau paling kiri, berarti ada penyumbatan. Titik penyumbatannya bisa dilihat dari pola yang terjadi. Bisa saja penyumbatannya di bagian pinggir, sehingga bahan bakar sedikit yang keluar
4. Flow test
Kemampuan total injector bakal teruji pada test ini. Maka sebaiknya mengetahui kapasitas standar yang diukur dalam satuan cc/menit. Untuk itu, injector akan dibuka (diberi arus untuk membuka jarum nosel) dan dialiri bahan bakar (dengan tekanan tertentu) selama 15 detik. kemudian alirannya diukur apakah sesuai dengan kapastias standarnya.
Variabel pengetesan bisa berbeda untuk tiap mobil. Misalnya injector mesin 4G63 milik Mitsubishi Eterna berkapasitas 240 cc.menit. Artinya selama 15 detik, alat ini harus mengalirkan 60 cc bensin.
Sedangkan tekanan bahan bakar saat tes biasanya diberikan tekanan sebesar 5 bar, lebih tinggi dengan kondisi mesin (sekitar 3-4 bar). Resistance (tahanan) injector pun diukur apakah masih sesuai dengan standar. Dari tes ini, akan diketahui apakah kemampuan injector merata untuk tiap silinder. Sebab saat pertama diukur, flownya bisa berbeda-beda. Mesin pun bisa kasar, tidak bertenaga dan gampang terjadi detonasi.
Setelah dibersihkan pun tes ini dilakukan kembali untuk mengecek apakah pembersihan yang dilakukan cukup efektif. Apakah kemampuannya kembali normal dan merata pada tiap silinder. Angka pengukuran berbeda masih bisa diterima untuk pemakaian harian, asal deviasinya tidak terlalu besar.
5. Simulasi
Tahap ini diperlukan untuk memantau kinerja injector pada waktu dipakai. Sehingga perlu simulasi kondisi mesin. Aliran bensin diukur untuk tekanan dan putaran mesin berbeda. Meski jarang terjadi, bisa saja injector bagus pada 1.000 rpm tetapi pada 2.000 rpm kurang baik.

6. Pembersihan
Jika diyakini masih bisa dipakai atau tidak bocor, injector bisa dibersihkan. Ada dua metode pembersihan, pertama dengan cara liquid cleaing. Caranya dengan menggunakan cairan khusus yang dialirkan terus menerus (injector dalam kondisi terbuka) untuk mengikis kotoran. Kalau cara itu tidak berhasil, gunakan ultrasonic cleaning. Injektor direndam dalam wadah dengan cairan khusus juga.  peranti itu dialirkan listrik untuk membuka tutup secara periodic.
Sementara pada cairan diberi gelombang getaran ultrasonic untuk mengikis endapan. Cara ini terbukti mampu mengembalikan performa mesin.